Fawatihus suwar
BAB I
PENDAHULUAN
A .Latar Belakang
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan nikmat kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa kita curahkan kehadirat nabi Muhammad saw beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya yang setia pada sunahnya sampai ahkir jaman Amin ya rabbal ‘alamin.
Allah swt menurunkan al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang didalamnya menjelaskan segala sesuatu dan tidak akan pernah sesat orang nyang menjadikan nya sebagai pedoman bagi kehidupan sehari-hari.maka seyogianyalah setiap orang islam harus senantiasa mempelajari dan mengkaji apa-apa nyang ada didalamnya karena semakin banyak kita mengkaji al-qur’an maka akan semakin banyak kita menemukan khazanah keilmuan yang ada didalamnya serta hikmah-hikmah nyang belum kita dapat sebelumnya.maka dalam makalah yang singkat ini kami selaku pemakalah akan mencoba menjelaskan sebagian kecil dari ulumul qur’an nyang berkisar tentang fawatih al-suwar ada poin-poin nyang akan kami ketengahkan sebagai berikut:
Ø Pegertian fawatih al-suwar
Ø Macam-macam fawatih al-suwar
Ø Pendapat ulama tentang fawatih al-suwar
Ø Urgensi mempelarari tentang fawatih al-suwar
Dalam makalah yang singkat ini masih banyak terdapat kekurangan itu disebabkan karena keterbatasan kami selaku pemakalah maka kami mohon ma’af serta keritik dan saran sangat kami harapkan dari teman-teman demi untuk perbaikan makalah ini, dan akhir dari segalanya kami serahkan kepada Allah swt mudah-mudahan makalah ini dapat bermanpa’at Amin ya rabbal ‘alamin.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengrtian Fawatih al-Suwar
Secara bahasa, fawatih al-suwar adalah pembukaan-pembukaan surat yang terdapat dalam al-qur’an, karena posisinya terletak diawal surat dalam al-qur’an. Seluruh surat dalam al-qur’an di buka dengan sepuluh macam pembukaan dan tidak ada satu surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut. Setiap macam pembukaan memiliki rahasia tersendiri sehingga sangat penting untuk kita pelajari.
Diantara pembuka surat itu diawali dengan huruf-huruf terpisah (al-Ahruf al-Munqata’ah). Dan orang sering mengidentikan dengan fawatih al-suwar. Dan diantara ulama yang mengidentikannya adalah Manna Khalil al-Qathan dalam karya nya ‘‘Mabahis Fi Ulum al-Qur’an’’ padahal huruf al-Muqaththa’ah bagian dari fawatih al-suwar.
B. Macam-Macam fawatih al-suwar.
Beberapa ulama telah melakukan penelitian tentang fawatih al-suwar dalam al-Qur’an, diantaranya adalah imam al-Qasthalani, beliau membagi kepada sepuluh macam. Sementara ibnu Abi al-Isba juga telah melakukan penelitian dan beliau membagi kepada lima macam saja. dan dalam pembahasan ini kami akan mengetengahkan pendapat al-Qasthalani : Adapun sepuluh macam menurut beliau adalah:
1. Pembukaan pujian kepada Allah swt.
Pujian kepada Allah ada dua macam yaitu:
a. Menetapkan sifat-sifat terpuji (الاءثبات الصفات الماض). Dengan manggunakan lafaz yaitu:
1). Memakai lafaz hamdalah yakni dibuka dengan الحمدyang terdapat dalam lima surat.
2). memakai lafaz تبارك terdapat dalam dua surat.
b. Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (تشبح عن صفات نقص) dengan menggunakan lafaz tasbih (يسبح, سبح, سبح, سبحن). Sebagai mana terdapat dalam tujuh surat.
PENDAHULUAN
A .Latar Belakang
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan nikmat kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa kita curahkan kehadirat nabi Muhammad saw beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya yang setia pada sunahnya sampai ahkir jaman Amin ya rabbal ‘alamin.
Allah swt menurunkan al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang didalamnya menjelaskan segala sesuatu dan tidak akan pernah sesat orang nyang menjadikan nya sebagai pedoman bagi kehidupan sehari-hari.maka seyogianyalah setiap orang islam harus senantiasa mempelajari dan mengkaji apa-apa nyang ada didalamnya karena semakin banyak kita mengkaji al-qur’an maka akan semakin banyak kita menemukan khazanah keilmuan yang ada didalamnya serta hikmah-hikmah nyang belum kita dapat sebelumnya.maka dalam makalah yang singkat ini kami selaku pemakalah akan mencoba menjelaskan sebagian kecil dari ulumul qur’an nyang berkisar tentang fawatih al-suwar ada poin-poin nyang akan kami ketengahkan sebagai berikut:
Ø Pegertian fawatih al-suwar
Ø Macam-macam fawatih al-suwar
Ø Pendapat ulama tentang fawatih al-suwar
Ø Urgensi mempelarari tentang fawatih al-suwar
Dalam makalah yang singkat ini masih banyak terdapat kekurangan itu disebabkan karena keterbatasan kami selaku pemakalah maka kami mohon ma’af serta keritik dan saran sangat kami harapkan dari teman-teman demi untuk perbaikan makalah ini, dan akhir dari segalanya kami serahkan kepada Allah swt mudah-mudahan makalah ini dapat bermanpa’at Amin ya rabbal ‘alamin.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengrtian Fawatih al-Suwar
Secara bahasa, fawatih al-suwar adalah pembukaan-pembukaan surat yang terdapat dalam al-qur’an, karena posisinya terletak diawal surat dalam al-qur’an. Seluruh surat dalam al-qur’an di buka dengan sepuluh macam pembukaan dan tidak ada satu surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut. Setiap macam pembukaan memiliki rahasia tersendiri sehingga sangat penting untuk kita pelajari.
Diantara pembuka surat itu diawali dengan huruf-huruf terpisah (al-Ahruf al-Munqata’ah). Dan orang sering mengidentikan dengan fawatih al-suwar. Dan diantara ulama yang mengidentikannya adalah Manna Khalil al-Qathan dalam karya nya ‘‘Mabahis Fi Ulum al-Qur’an’’ padahal huruf al-Muqaththa’ah bagian dari fawatih al-suwar.
B. Macam-Macam fawatih al-suwar.
Beberapa ulama telah melakukan penelitian tentang fawatih al-suwar dalam al-Qur’an, diantaranya adalah imam al-Qasthalani, beliau membagi kepada sepuluh macam. Sementara ibnu Abi al-Isba juga telah melakukan penelitian dan beliau membagi kepada lima macam saja. dan dalam pembahasan ini kami akan mengetengahkan pendapat al-Qasthalani : Adapun sepuluh macam menurut beliau adalah:
1. Pembukaan pujian kepada Allah swt.
Pujian kepada Allah ada dua macam yaitu:
a. Menetapkan sifat-sifat terpuji (الاءثبات الصفات الماض). Dengan manggunakan lafaz yaitu:
1). Memakai lafaz hamdalah yakni dibuka dengan الحمدyang terdapat dalam lima surat.
2). memakai lafaz تبارك terdapat dalam dua surat.
b. Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (تشبح عن صفات نقص) dengan menggunakan lafaz tasbih (يسبح, سبح, سبح, سبحن). Sebagai mana terdapat dalam tujuh surat.
2. Pembukaan
dengan panggilan (الا ستفتح بنداء)
Nida disini ada 3 macam, yaitu Nida untuk nabi, misalnya (ياايها النبي) terdapat dalam tiga surat.
Nida disini ada 3 macam, yaitu Nida untuk nabi, misalnya (ياايها النبي) terdapat dalam tiga surat.
Nida untuk Mukminin (ياايها الذين امنوا) terdapat
tiga surat.
Dan Nida untuk manusia (ياايها الناس) terdapat dalam
dua surat .
3. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus (الا ستفتح بالاحرف المنقطعه)
Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang yaitu: ا, ى, ه, ن, م, ل, ق ,ع, ط, ص, س, ر,ح. Penggunaan huruf-huruf di atas dalam fawatih al-Suwar disusun dalam 14 rangkaian, yang terdiri dari beberapa bentuk sebagai berikut:
a. Terdiri dari satu huruf, terdapat dalam tiga surat yakni ص (QS.Shad),ق (QS.Qaf), dan ن (QS, Qalam).
b.Terdiri dari dua huruf, terdapat dalam 10 surat, 7 surat dinamakan Hawamim(surat-surat yang dibuka dengan Hamim), yakni: (QS, Al-Mukmin,Al-fussilat, Al-surra, Al- Zuhruf, Al- Dukhan, Al- Jatsiah, Al- Ahqaf), طه (QS, Taha), طس (QS, Naml) يس (QS, Yasin).
c.Terdiri dari tiga huruf, enam surat dimulai dengan الم yaitu: (QS, Al-Baqarah, Al- Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Lukman, dan Al-Sajdah), lima surat dimulai denganاالر yaitu: (QS, Yunus, Hud, Ibrahim, Yusuf dan Al-Hijr), dan dua surat dimulai denganطسم yaitu: (QS, Qashash dan Asy-Syuaro).
d..Terdiri dari empat huruf yaitu: المر (QS, Al-Ara’ad) dan المص (QS, Al-A’raf).
e. Terdiri dari lima huruf yaitu: كهيعص (QS, Maryam), dan حم عسق (QS, Al-Syuara).
4. Pembukaan dengan sumpah (الاءتتفناح بقسام)
Terdapat dalam 16 surat dibagi kepada tiga bagian sebagai berikut:
a. Sumpah dengan benda angkasa misalnya: والنجم (QS, An-Nazm), والسماء والطارق (QS, Ath-Thariq), dan lain-lain.
b. Sumpah dengan benda bawah misalnya: والتين (QS, At-Tin), والعديت (QS, Al_’Adiyat), dan lain-lain
c. Sumpah dengan waktu misalnya: والعصر (QS, Al-Ashr), واليل (QS, Al-Lail), dan lain-lain.
5. Pembukaan dengan kalimat (jumlah) Khabariah ada 23 surat dan dibagi dua macam sebagai berikut:
a. Jumlah ismiyah, jumlah ismiyah menjadi pembuka surat yang terdiri dari 11 surat yaitu: براءة من الله ورسوله (QS, At-Taubat), سورة انزلناها وفرضناها (QS, An-Nur).
b. Jumlah fi’liyah, jumlah fi’liyah yang menjadi pembuka surat terdiri dari 12 surat yaitu: يسئلونك عن الانفال (QS, Al-Anfal), قد افلح المؤ منون (QS, Al-Mukminun) dan lain-lain.
6. Pembukaan dengan Syarat (الاءستفتاح با لشرط)
Terdiri dari tujuh surat misalnya اذالشمس كورت (QS, At-Takwir).اذالسماء انفطرت (QS, Al Inpithar) dan lain-lainnya.
7. Pembukaan dengan kata perintah.
Adapun pembukaannya terdiri dari enam surat yaitu: dengan kata اقرا dalam surat Al-Alaq, dan dengan kata قل dalam surat al-Jin, al-Kfirun, al-Falaq, dan al-Annas.
8. Pembukaan dengan pertanyaan.(al-Istiftah bil Istifham).
Bentuk nya ada dua dan terdapat empat surat dalam al-Qur’an. Yaitu:
a. Pertanyaan fositif misalnya: هل اتي علي الانسان (QS. Ad-dahr).
b. Pertanyaan negatif misalnya: الم نشرح لك صدرك (QS, Al-Insyirah).
9. Pembukaan dengan do’a
Ada tiga surat didalam al-Qur’an. Misalnya:ويل للمطففين (QS, Al-Muthaffifin).
10.Pembukaan dengan alasan (al-Istiftah bit-Ta’lil).
Ada satu surat didalam al-Qur’an. Misalnya لايلف قريش (QS. Al-Qurais).
C. Pendapat Ulama Tentang Fawatih al-Suwar.
Para ulama banyak yang membicarakan masalah ini diantara mereka ada yang berani menafsirkan nya, yang mana huruf-huruf itu adalah rahasia yang Allah saja yang mengetahuinya. Ada pun penafsiran ulama itu adalah sebagai berikut:
1. As-Suyuti menukil pendapat ibnu Abbas tentang hurup tersebut adalah sebagai berikut: diantaranya: الم berarti الله اعلم انا yang berarti hanya aku yang paling tahu kemudian المص yang berarti A’lamu wa Afshilu yaitu hanya aku yang paling mengetahui dan yang menjelaskan suatu perkara, sedangkan المر berarti Ana Ara yang berarti aku melihat. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa makna كهيعص yaitu Kaf dari kata Karim yang berarti mulia, Ha adalah Hadin yang berarti memberi petunjuk, Ya adalah Hakim yang berarti yang maha bijaksana, Ain yaitu Alim yang berarti yang maha mengetahui, dan Shad yaitu Shadiq yang berarti yang maha Benar. dan sebagainya.Dikatakan bahwa pendapat ini hanyalah dugaan saja. kemudian As-Suyuti menerangkan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah swt sendiri yang mengetahuinya.
2. Az- Zarkasyi berkata dalam tafsirnya ‘al-Qassyaf tentang huruf-huruf itu bahwa di dalamnya terdapat beberapa pendapat yaitu: merupakan rahasia Allah yang hanya Allah sendiri nyang mengetahuinya. Atau merupakan nama surat, dan sumpah Allah swt dan supaya dapat menarik perhatian orang yang mendengarnya.
3. Al-Quwaibi mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan peringatan bagi nabi, mungkin pada saat itu beliau dalam keadaan sibuk, maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
4. As-sayyid rasyid ridha tidak membenarkan al-quwaibi diatas, karena nabi senantiasa dalam keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu. Rasyid ridha berpendapat sesuai dengan ar-Razi bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang musyrik mekkah dan ahli kitab madinah. Karena orang-orang kafir apabila nabi membaca al-Qur’an mereka satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya, seperti dijelaskan dalam surat fushilat ayat 26.
5. Ulama salaf berpendapat bahwa ‘‘Fawatih al-Suwar’’ telah disusun semenjak jaman azali, yang demikian itu melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkan seperti al-Qur,an.
Oleh karena I’tiqad bahwa huruf-huruf itu telah sedemikian daari azalinya, maka banyaklah orang yang telah berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf tersebut.
D. Urgensi mempelajari tentang Fawatih as-Suwar
Banyak sekali urgensi yang kita dapat dalam mengkaji Fawatih al-Suwar. Adapun sebagian dari urgensinya sebagai berikut:
Sebagai Tanbih( peringatan ) dan dapat memberikan perhatian baik bagi nabi,maupun umatnya dan dapat menjadi pedoman bagi kehidapan ini.
Sebagai pengetahuan bagi kita yang senantiasa mengkajinya bahwa dalam fawatih as-suwar banyak sekali hal-hal yang mengandung rahasia-rahasia Allah yang kita tidak dapat mengetahuinya.
Sebagai motivasi untuk selalu mancari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan cara beriman dan beramal shaleh dan menambah keyakinan kita bahwa al-Qur’an itu adalah benar-benar kalam Allah swt.
Untuk menghilangkan keraguan terhadap al-Qur,an terutama bagi kaum mislimin yang masih lemah imannya karena sangat mudah terpengaruh oleh perkataan musuh-musuh islam yang mengatakan bahwa al-qur’an itu adalah buatan Muhammad. dengan mengkaji Fawatih al-Suwar kita akan merasakan terhadap keindahan bahasa al-Qur’an itu sendiri bahwa al-Qur’an itu datang dari Allah swt.
E. Khawatim al-Suwar
Sebagaimana pembuka surat, penutup surat pun memiliki keindahan tertentu. Alasannya, penutup surat merupakan akhir kesan yang didengar (dibaca) dari surat yang bersangkutan. Oleh karena itu, penutup surat memuat kandungan yang sarat dengan makna.
1. Pengertian Khawatim Al-Suwar
Khawatim merupakan bentuk jamak dari kata khatimah, yang berarti penutup atau penghabisan. Secara bahasa, khawatim al-suwar berarti penutup surat-surat Al Qur’an. Menurut istilah khawatim al-suwar adalah ungkapan yang menjadi penutup dari surat-surat al Qur’an yang memberi isyarat berakhirnya pembicaraan sehingga merangsang untuk mengetahui hal-hal yang dibicarakan sesudahnya.
2. Macam Khawatim Al-Suwar
Imam As Suyuthi dalam membahas khawatim al-suwar tidak begitu rinci sebagaimana menerangkan fawatihus suwar. Ia menerangkan beberapa bentuk term sebagai penutup dari surat-surat tersebut. Di situ diterangkan bahwa penutup surat diantaranya berupa : do’a, wasiat faroidl, tahmid, tahlil, nasihat-nasihat, janji dan ancaman, dll.
Menurut sementara penelitian terhadap penutup surat-surat al Qur’an sedikitnya fawatihus suwar ada 18 macam, yaitu :
a. Penutup dengan mengagungkan Allah (At Ta’dzim) terdapat dalam 17 surat, yaitu : 1). Q.S. Al Maidah, 2). Al Anfal, 3). Al Anbiya, 4). An Nur, 5). Lukman, 6). Fathr, 7). Fushilat. 8). Al Hujurat, 9). Al Hadid, 10). Al Hasyr, 11). Al Jum’ah, 12). Al Munafiqun, 13). At Thaghabun, 14). At Thalaq, 15). Al Jin, 16). Al Mudatsir, 17). Al Qiyamah, dan 18). At tin.
b. Penutupan dengan anjuran ibadah dan tasbih, terdapat dalam 6 surat, yaitu : 1). Q.S. al A’raf, 2). Hud, 3). Al Hijr, 4). At Thur, 5). An Najm, dan 6). Al ‘Alq.
c. Penutupan dengan pujian (at Tahmid).[10] Terdapat dalam 11 surat. Yakni : 1). Q.S. Al Isra, 2). An Naml, 3). Yasin, 4). As Shaff, 5). As Shafat, 6). Az Zumar, 7). Al Jatsiyah, 8). Ar Rahman, 9). Al Waqi’ah, 10). Al Haqqah, dan 11). An Nashr.
d. Penutupan dengan do’a, terdapat dalam 2 surat, yaitu : 1) Q.S. Al Mu’minun, 2). Al Baqoroh.
e. Penutupan dengan wasiat, terdapat dalam 7 surat, yaitu : 1). Ar Rum, 2). Ad Dukhan, 3). As Shaff, 4). Al A’la, 5). Al Fajr, 6). Ad Duha, 7). Al ‘Ashr.
f. Penutupan dengan perintah dan masalah taqwa, terdapat dalam Q.S. Ali Imron, An Nahl, dan Al Qomar.
g. Penutupan dengan masalah kewarisan, terdapat dalam Q.S. An Nisa.
h. Penutupan dengan janji dan ancaman, di antaranya terdapat dalam Q.S. Al Mujammil, Al Humazah, dll.
i. Penutupan dengan hiburan bagi Nabi saw., terdapat dalam Q.S. Al Kautsar, Al Kafirun, dll.
j. Penutupan dengan sifat-sifat Al Qur’an, seperti dalam Q.S. Yusuf, Q.S. Shad, dan Q.S. Al Qolam.
k. Penutupan dengan bantahan (al jadl), terdapat dalam Q.S. Ar Ra’d.
l. Penutupan dengan ketauhidan, terdapat dalam Q.S. At Taubah, Q.S. Ibrahim, Q.S. Al Kahfi, Q.S. Al Qashash, dll.
m. Penutupan dengan kisah, terdapat dalam Q.S. Maryam, at Tahrim, ‘Abasa, dan Al Fil.
n. Penutupan dengan anjuran jihad, terdapat dalam Q.S. Al Haj.
o. Penutupan dengan perincian maksud, seperti terdapat dalam Q.S. Al Fatihah, As Syu’ara, At Takwir, dll.
p. Penutupan dengan pertanyaan, seperti dalam Q.S. Al Mulk dan Al Mursalat.
F. Kaitan Fawatihus suwar dan Khawatimus suwar
Al Qur’an memang benar-benar wahyu dari Allah SWT. Yang mengandung mukjizat ditinjau dari berbagai segi, termasuk dengan pembuka dan penutup surat-surat yang para ulama berusaha mengungkap rahasia-rahasia di balik itu semua.
Menurut Ahli bayan dari segi balaghah, fawatihus suwar merupakan husnul ibtida karenanya kalimat pertama merupakan kalimat yang akan mempengaruhi hati si pendengar, sebagai kesan pertama. Begitu juga dalam Khawatim, dengan penutup yang indah akan memberikan kesan yang indah yang akan membuat si pendengar penasaran ingin mendengarkan selanjutnya. Kata As Suyuthi dengan sampainya pada penutup surat, pembaca sangat puas atas uraian yang telah dikemukakan oleh surat bersangkutan sehingga tidak ada perasaan heran yang tersisa.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa di antara Fawatihus suwar adalah huruf-huruf muqoto’ah yaitu huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: alif laam miim, alif laam raa, alif laam miim shaad dan sebagainya. Di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan : Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Di bawah ini adalah beberapa pendapat tentang fawatihus suwar (al ahruful muqoto’ah) :
Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, sebagaimana pendapat Abdurrhman bin Zaid bin Aslam.
Golongan yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
Golongan yang berpendapat bahwa ia itu adalah nama dari nama-nama Allah Ta’ala. Pendapat ini dikemukakan oleh Salim bin Abdullah dan As Sudy yang bersumber dari Ibnu Abbas dengan menerangkan alif laam miim dengan alif (Ana) lam (Allah), mim (a’lamu).
Ar Razi mengutip pendapat Abul Aliyah yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu isyarat mengenai masa keberadaan kaum yang diterangkan dalam surat tersebut. Misalnya alif masa satu tahun lam 30 tahun dan min 40 tahun.
Menurut Al Hubbi, awal surat yang berupa merupakan bentuk peringatan kepada Nabi SAW. Dikatakan bahwa Allah mengetahui bagian-bagian waktu yang nabi sebagai seorang manusia kadang sibuk. Maka dari itu Jibril menyampaikan Firman Allah seperti alif lam min dengan suara Jibril, supaya nabi menerima dan memperhatikannya.
Dr. Nashr Hamid menerangkan, "apabila dikoleksi pendapat-pendapat mengenai huruf-huruf muqoto'ah maka akan mencapai tiga belas ta'wil. Dan masing-masing ulama tidak dapat memaksakan pendapatnya pada satu pendapat".
Dalam Kitab Al Qowaidul Hisan fit Tafsiril Qur’an disebutkan Allah SWT. menutup ayat-ayat-Nya dengan Al Asmaul Husna dengan tujuan menjelaskan bahwasanya hukum yang disebutkan dalam surat tersebut berkaitan dengan Nama-Nya. Selanjutnya di dalam kitab tersebut disebutkan kalau kita mencermati ayat-ayat yang diakhiri dengan Asmaul Husna, kita akan mendapati bahwasanya syari’at, perintah dan makhluk semuanya berasal dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang kita terikat dengannya.
Ada keserasian yang mendalam antara pembuka, ayat setelahnya bahkan dengan penutup surat yang bersangkutan. Sebagai contoh di dalam surat al-fatihah ada ayat yang berbunyi :
$tRÏ÷d$# xÞºuÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ
Artinya : “Tunjukilah Kami jalan yang lurus”.
Ayat di atas mengandung permohonan untuk memperoleh hidayah. Dalam surat al-Baqoroh, Allah SWT. Mengabulkan permohonan tersebut dengan membuka dengan tiga huruf yang terpotong-potong disambung dengan ayat keduanya yang menerangkan bahwa petunjuk yang dipinta itu adalah al-Qur’an yang tidak diragukan lagi. Selanjutnya diterangkan berbagai aturan-aturan yang harus dijalankan. Maka sebagai manusia yang lemah, maka Allah menuntun kepada kita di akhir surat al-Baqoroh itu dengan do’a, permohonan agar jangan diberi beban yang terlalu berat, agar dikuatkan dalam melaksanakannya, dan agar diberi pertolongan dalam mengemban tugas tersebut dari gangguan-gangguan orang-orang yang tidak suka petunjuk Allah tegak di muka bumi ini.
E. Nilai-nilai pendidikan dalam Fawatihus suwar, Khawatimus suwar.
Kondisi peserta didik bermacam ditinjau dari berbagai sisi. Oleh sebab itu perlu diadakan pendekatan-pendekatan dan metode-metode yang mengantarkan peserta didik sampai pada tujuan yang ingin ia capai. Dalam Fawatihus suwar dan khawatimus suwar kita dapat menemukan formula-formula dalam metode didaktik.
Di dalam Fawatih dan Khawatim, kita dapat mempelajari bagaimana tekhnik membuka dan menutup suatu pelajaran.
Appersepsi yang berarti menafsirkan buah pikiran dikenal dalam dunia pendidikan sebagai prakondisi sebelum siswa masuk pada materi pembelajaran. Menurut Herbart, Appersepsi adalah memperoleh tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang telah ada. Disini terjadi asosiasi antara tanggapan yang baru dengan yang lama. Appersepsi membangkitkan minat dan perhatian untuk sesuatu.
Dalam kaitannya dengan fawatih, salah satu pendapat bahwa huruf muqoto'ah adalah membangkitkan minat orang-orang Arab untuk memperhatikan apa kelanjutan dari huruf-huruf tersebut.
Dalam Fawatih dan Khawatim terdapat model pertanyaan. Diungkapkan oleh S. Nasution, bahwa pertanyaan itu penting di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan, kesangsian, keragu-raguan adalah sumber aktivitas mental. Pertanyaan adalah stimulus yang mendorong anak untuk berpikir dan belajar. Selanjutnya beliau menerangkan sebelas fungsi dan tujuan pertanyaan di antaranya :
1. Membangkitkan minat untuk sesuatu, sehingga timbul keinginan untuk mempelajarinya;
2. Mengubah pendirian, kepercayaan atau prasangka yang tak sesuai.
Dalam proses belajar mengajar ada komponen yang tidak kalah pentingnya yaitu evaluasi. Evaluasi yaitu tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu, atau dapat diartikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan. Salah satu contoh dari Khawatimus suwar, perhatikan akhir surat berikut :
ö@è% ÷Läê÷uäur& ÷bÎ) yxt6ô¹r& ö/ä.ät!$tB #Yöqxî `yJsù /ä3Ï?ù't &ä!$yJÎ/ ¤ûüÏè•B ÇÌÉÈ
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?" (Q.S. al-Mulk :30)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalah ini adalah :
F Fawatih as-suwar adalah pembuka-pembuka surat, karena posisinya di awal surat dalam al-quran menurut al-Qasthalani seluruh surat dalam al-quran dibuka dengan sepuluh macam pembukaan dan tidak ada satu surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut, sedangkan menurut Ibnu abi al-Isba’ hanya lima macam saja
F Para ulama berpendapat bahwa huruf-huruf fawatih as-suwar itu secara umum telah sedemikian azali maka banyak ulama yang tidak berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap makna huruf-huruf tersebut.
F Adapun urgensi mempelajari fawatih as-suwar itu secara pokok adalah bagaimana supaya bertambah keimanan kita dan keyakinan kita terhadap kebenaran ayat-ayat Allah swt. Dan menjadi pedoman dalam kehidupan kita.
F Al Qur'an memang benar-benar wahyu Allah SWT.
F Dalam membuka dan menutup surat-surat, Allah SWT.
F Menggunakan beberapa metode yang dapat diformulasikan sebagai metode didaktik Allah kepada Nabi Muhammad dan kepada umat-Nya.
DAFTAR PUSAKA
Ø Al-Quranul karim
Ø As suyuti, Jalaluddin, al-Itqon Fi Ulum al-Quran, Dar al-Fikri. Beirut.
Ø Ash-Shidiqi, Hasby, Ulum al-Qur’an, Pustaka Rizki putra, Semarang. 2002.
Ø As-Shoburi, M. Ali, at-Tibyan Fi Ulumil Qur’an.
Ø Ahmad Rofi’I dan Ahmad Syadali, Ulum al-Quran , Bandung, CV Pustaka Setia, 2000.
Ø Supian dar Karman, Ulumul al-Qur’an , Bandung, Pustaka Islami, 2002.
Ø Chirzin, Muhammad, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an, Yogya, Dana Bhakti Prima Yasa, 1998.
Ø Az Zarkasyi, Al Burhan fi ulumil Qur’an, CD Rom Maktabah Syamilah, Juz I.
Ø Manna’ul Qoththon, Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Bogor, Litera Antar Nusa, 1992.
Ø Alawy bin, Muhammad, Zubdah al Itqon fi ulumil Qur'an, Bandung, Pustaka Setia, 1999.
1. “FAWATIHUS SUWAR” MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah “Studi Al-Qur’an” Oleh : Nur Alfiyatur Rochmah B06213037
Dosen Pembimbing : Prof. Dr. H. Aswadi, M.Ag FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU
KOMUNIKASI JURUSAN ILMU KOMUNIKASI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2013
2. Pembahasan
A. Pengertian Fawatih Al-Suwar Istilah “fawatih” adalah jamak dari kata “fatih”
atau “fatihah” yang secara lughowi berarti pembuka. Sedangkan “suwar” adalah
jamak dari kata “surah” sebagai sebutan dari sekumpulan ayat-ayat Al-qur’an
yang diberi nama tertentu. Jadi “fawatih Al-suwar” berarti pembukaan-pembukaan
surah, karena posisinya berada di awal surah-surah dalam Al-qur’an. Di antara
pembuka itu ada yang berbentuk huruf terpisah (Al-muqatha’at), kata, maupun
kalimat. Semua bentuk ini membari pesan tertentu yang hanya bisa dipahami oleh
mereka yang memahami tafsir Al-qur’an.1[1] Dalam catatan As-Syuyuthi,ada kurang
lebih 20 pendapat yang berkaitan dengan persoalan ini, dilafalkan secara
terpisah sebanyak huruf yang berdiri sendiri.2[2] Huruf Al-muqatha’ah (huruf
yang terpotong-potong) disebut fawatih Al-suwar. Itulah sebabnya, banyak telaah
tafsir untuk mengungkapkan rahasia yang terkandung di dalamnya. B. Macam –
Macam Fawatihus Suwar Adapun bentuk fawatih Al-suwar dalam Al-qur’an adalah
sebagai berikut3[3] : a. Pembukaan dengan pujian kepada Allah (al-istiftah bil
al tsana). Pujian kepada Allah ada dua macam, yaitu: - Menetapkan sifat-sifat
terpuji dengan: ·
Memakai lafal hamdalah, yang terdapat dalam 5 surat yaitu : Q.S. Al Fatihah, Al
An’am, Al Kahfi, Saba, dan Fathr. ·
Memakai lafal تبارك , yang terdapat dalam 2 surat yaitu Q.S. Al Furqon dan Al
Mulk - Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (tanzih ‘an ssifatin naqshin)
dengan menggunakan lafal tasbih terdapat dalam 7 surat yaitu : Q.S. Al Isra, al
A’la, al Hadid, al Hasyr, as shaff, al jum’ah, dan at Taghabun. b. Dengan
menggunakan huruf – huruf yang terputus – putus (huruful muqotho’ah) - Terdiri
atas satu huruf, terdapat pada tiga tempat; surah shad, surah qaf, surah
Al-qalam. 1[1] Acep Hermawan,’Ulumul Qur’an,Remaja Rosdakarya,Bandung,2011,hlm.102
2[2] Rosihon Anwar,’Ulumul Qur’an,Pustaka Setia,Bandung,2010,hlm.129 3[3]
Ibid,hlm.130. lihat juga Abdul Jalal H.A., Ulumul Quran, Surabaya: Dunia Ilmu,
2011, hal. 169-199.
3. -
Terdiri atas dua huruf, terdapat pada sembilan tempat; حم (Q.S. Al Mu’min, Q.S.
As Sajdah, Q.S. Az Zuhruf, Q.S. Ad Duhkan, Q.S. Al Jatsiyah, dan Q.S. Al
Ahqaf); طه (Q.S. Thaha); طس (Q.S. An Naml); dan يس (Q.S. Yaasin). - Terdiri
atas tiga huruf, terdapat pada tiga belas tempat; الم (Q.S. Al Baqoroh, Q.S.
Ali Imron, Q.S. Ar Rum, Q.S. Lukman, dan Q.S. Sajdah); الر (Q.S. Yunus, Q.S.
Hud, Q.S. Ibrahim, Q.S. Yusuf, dan Q.S. Al Hijr); dan طسم (Q.S. Al Qoshosh dan
Q.S. As Syu’ara). - Terdiri atas empat huruf, terdapat pada dua tempat; yakni المر
(Q.S. Ar Ra’du) dan المص (Q.S. Al A’raf). - Terdapat atas lima huruf, terdapat
pada dua tempat; كهيعص (Q.S. Maryam) dan حم عسق (Q.S. As Syu’ra). c. Pembukaan
dengan kalimat khabariyah (al istiftah bi al jumal al khabariyah). Jumlah
khabariyah dalam pembukaan surat ada dua macam, yaitu : - Jumlah Ismiyyah,
terdapat 11 surat, yaitu terdapat dalam Q.S. At Taubah, Q.S. An Nur, Q.S. Az
Zumar, Q.S. Muhammad, Q.S. Al Fath, Q.S. Ar Rahman, Q.S. Al Haaqqah, Q.S. Nuh,
Q.S. Al Qodr, Q.S. Al Qori’ah, dan Q.S. Al Kautsar. - Jumlah Fi’liyyah,
terdapat dalam 12 surat, yaitu : Q.S. Al Anfal, Q.S. An Nahl, Q.S. Al Qomar,
Q.S. Al Mu’minun, Q.S. Al Anbiya, Q.S. Al Mujadalah, Q.S. Al Ma’arij, Q.S. Al
Qiyamah, Q.S. Al Balad, Q.S. Abasa, Q.S. Al Bayyinah, Q.S. At Takatsur. d.
Pembukaan dengan sumpah (al istiftah bil qasam). terdapat dalam 15 surat. -
Sumpah dengan benda-benda angkasa, QS. Al-Shaffat, QS al-Najm, QS. Al-Nazi’at,
QS. Al- Buruj, QS al-Thariq, QS. Al-Fajr, QS. Al-Syams, QS. Al-Mursalat. -
Sumpah dengan benda-benda bawah, QS. Al-Dzariyyat, QS. Al-Thur, QS. Al-Thin,
QS. Al- ‘Adiyat. - Sumpah dengan waktu, QS. Al-Layl, QS. Al-Dhuha, QS. Al-Ashr.
e. Pembukaan dengan syarat (al istiftah bis syarat) digunakan dalam 7 surat,
yakni: Q.S. At Takwir, Q.S. Al Infithar, Q.S. Al Insiqaq, Q.S. Al Waqi’ah, Q.S.
Al Munafiqun, Q.S. Al Zalzajah, dan Q.S. An Nashr. f. Pembukaan dengan kata
kerja perintah (al istiftah bil amr) terdapat dalam Q.S. Al Alaq, Q.S. Jin,
Q.S. Al Kafirun, Q.S Al Ikhlash, Q.S. Al Falaq, dan Q.S. An Nas. g. Pembukaan
dengan pertanyaan (al istiftah bil istifham). Bentuk pertanyaan ini ada dua
macam, yaitu : - Pertanyaan positif yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat
positif. Pertanyaan dalam bentuk ini digunakan dalam 4 surat, yaitu : Q.S. Ad
Dahr, Q.S. An Naba, Q.S. Al Ghasyiyah, dan Q.S. Al Maun.
4. -
Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat negatif, yang
hanya terdapat dalam dua surat, yakni : Q.S. Al Insyirah dan Q.S. Al Fil. h.
Pembukaan dengan do’a (Al Istiftah bid du’a) terdapat dalam 3 surat, yaitu :
Q.S. Al Muthaffifin, Q.S. Al Humazah, dan Q.S. Al Lahab. i. Pembukaan dengan
panggilan (al istiftah bin nida) terdapat dalam 9 surat. - Nida untuk Nabi يا أيها
النبي , yang terdapat dalam Q.S. Al Ahzab, At Tahrim dan At Thalaq. ياأيها المزمل
dalam Q.S. al Muzammil dan ياأيها المدثر dalam Q.S. Al Mudatsir. - Nida untuk
kaum mukminin dengan lafadz ياأيها الذين امنوا terdapat dalam Q.S. Al Maidah,
Q.S. Al Mumtahanah dan Al Hujurat. - Nida untuk umat manusia ياأيها الناس
terdapat dalam Q.S. An Nisa dan Q.S. Al Hajj. j. Pembukaan dengan alasan (al
istiftah bit ta’lil) hanya terdapat dalam Q.S. Al Quraisy. Fawatihus suwar
dapat dipahami sebagaimana tabel dibawah ini. بالحمدلة 5 سور بالمدح ) بالثناء )
41 فواتح السور بالتبارك 2 سور 7 سور بالتنزيه 3 سور حرف ) بالحروف المقطعة ) 92 9
سور حرفان 33 سورة 3 حروف سورتان 4 حروف سورتان 5 حروف 5 سور إلى النبي ص م 3 بالنداء
) 41 ) إلى المؤمنين سور سورتان إلى الناس 33 سورة جملة اسمية ) بالجمل الخبرية )
92 32 سورة جملة فعلية 8 سور العلويات 4 ) 41 بالقسم ) السفليات سور 3 سور الوقت 3
سور جملة اسمية ) بالشرط ) 7 4 سور جملة فعلية سورة إقر أ ) بالأمر ) 6 5 سور قل 4
سور المجيب ) بالإستفهام ) 6 سورتان السلبي سورتان الإسمى ) بالدعاء ) 2 سورة الفعلى
سورة ) بالتعليل ) 4 C. Pendapat Para Ulama’
5. Pendapat
ulama mengenai makna fawatihus suwar itu secara garis besar terbagi menjadi 2
macam4[4]: 1. Maknanya tersembunyi karena merupakan rahasia yang hanya
diketahui oleh Alloh. Huruf – huruf itu sudah ada sejak zaman azali sehingga
susah untuk menafsirkannya karena termasuk ayat – ayat musyabbihat yang hanya
diketahui oleh Alloh. Pendapat tersebut adalah pendapat ulama - ulama salaf
seperti : a) Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, beliau berkata: فى كلّ كتاب سرّ, وسرّة
فى القرآن اوائل السور ditiap – tiap kitab ada rahasianya, dan rahasia dari Al
Qur’an adalah permulaan – permulaan surat. b) Sahabat Ali bin Abi Thalib,
beliau berkata : إن لكلّ كتاب صفوة و صفوة هذا الكتاب حروف التهجّى sesungguhnya
tiap kitab itu memiliki sari pati, dan sari pati kitab Al Quran ini adalah
huruf – huruf hijaiyah. c) Imam Asy Sya’by berkata: إن من سر هذا القرآن و من المتشابه
نؤمن بظاهرها ولكل العلم الى الله تعالى huruf-huruf itu termasuk rahasia dari Al
Quran ini dan termasuk hal – hal yang samar, yang cukup kita imani lahirnya
saja dan pengertiannya kita serahkan kepada Alloh. d) Ahli – ahli hadits
menukilkan dari Ibnu Mas’ud dan Khulafaur Rasyidin : إن هذه الحروف علم مستور و سرٌّ
وحجوبٌ إستأثره الله به sesungguhnya huruf – huruf ini adalah ilmu yang
tersembunyi dan rahasia yang tertutup yang hanya Alloh sendiri yang
mengetahuinya. 2. Makna fawatihus suwar dapat diketahui oleh Alloh dan dapat
dipahami oleh manusia terutama orang – orang yang mendalami ilmu pengetahuan-Nya.
Mereka yang memilih pendapat tersebut banyak sekali dan dengan pendirian masing
– masing. Diantara pendapat tersebut ada yang mendekati kebenaran dan adapula
yang menyimpang. Mereka yang mengikuti pendapat ini diantaranya: a) Az
Zamakhsyari, Al Baidhawy, Ibnu Taimiyah dan Al Hafidz Al Mizzi berpendapat
bahwa Al Quran tersusun dari huruf – huruf hijaiyah yang terkenal yang sebagian
terdiri dari satu- 4[4] Shubhy Sholih, Mabahits Fi Ulum Al Quran, Berut: Dar Al
Ilmi Li Al Malayina, 1085, hal. 235-242. Lihat pula TM. Hasbi ash Shiddieqy,
Ilmu – Ilmu Al Quran, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010, hal. 116-125 dan
Abdul Jalal H.A., Ulumul Quran, Surabaya: Dunia Ilmu, 2011, hal. 200- 207.
6. dua
huruf. Hal ini untuk menunjukkan kepada bangsa Arab bahwa Al Quran diturunkan
dengan menggunakan huruf – huruf yang mereka kenal, sedangkan bangsa Arab tidak
dapat menandingi Al Quran yang diturunkan dengan menggunakan bahasa mereka.
Andaikata Al Quran turun dengan bahasa lain, sudah barang tentu mereka tidak
dapat menandinginya. Hal ini menunjukkan akan kelemahan mereka yang mengingkari
Al Quran. b) As Suhaily, Al Khuwaiby dan Al Izzu Ibnu Abdi Salam berpendapat
bahwa huruf – huruf itu merupakan lambang angka – angka, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh sebagian ulama tentang ayat " الم غلبت الروم “ bahwasanya
Baitul Muqoddas dapat diduduki oleh orang Muslim pada tahun 583 H dan hal
tersebut menjadi kenyataan. Serta pengertian tentang pertempuran antara Ali dan
Mu’awiyyah dari awalan .عسق حم c) Sebagian ulama Syi’ah mengatakan bahwa
apabila huruf – huruf tersebut dikumpulkan dengan tanpa pengulangan, akan
tersusun صراط علىٍّّ حقٌّ نُ مسِكُه yang berarti jalan yang ditempuh Ali itu
benar dan kita harus berpegangteguh padanya. Pendapat ini dibantahkan oleh Ahli
Sunnah dengan jawaban yang sama yaitu صح طريقك مع السنة yang berarti telah
benar jalanmu bersama As Sunnah. d) Ibnu Hajar Al ‘Asqolany menyatakan bahwa
penakwilan dengan menggunakan angka – angka itu adalah pendapat yang salah dan
termasuk golongan sihir yang tidak ada dalam syariat. e) Ulama Tasawuf menyatakan
bahwa permulaan – permulaan surat itu hanya diketahui hakikatnya oleh orang –
orang yang dapat memahami kebathinan (ahli mistik) yang rasional. f) Ibnu
Farij, Ibnu Abbas dan Adh Dhahhak berpendapat bahwa fawatihus suwar itu diambil
dari nama – nama dan sifat – sifat Alloh. Seperti; - Kaf Ha Ya ‘Ain Shad =
Karim, Hadin, Hakim, ‘Alim, Shadiq/ Kafin, Hadin, Amin, ‘Alim, Shadiq/ Mulk,
Alloh, Al ‘Aziz, Al Mushawir/ Kabir, Hadin, Amin, ‘Aziz, Shadiq. الر =ارى اللهانا
- الر+ حم + ن = الرحمن - الم = الله لطيف مجيد - g) Sebagian ulama menyebutkan
bahwa fawatihus suwar adalah kata yang digunakan Alloh untuk sumpah-Nya. h)
Sebagian ulama juga menyebutkan bahwa fawatihus suwar adalah nama dari surat –
surat yang dimulai dengan huruf – huruf tersebut. i) Ibnu Jarir, Ibnu Katsir,
Az Zarkasyi, As Suyuti, Al Khuwaiby dan Sayid Rasyid Ridho menyatakan bahwa
fawatihus suwar digunakan untuk menarik perhatian. Akan tetapi siapa objeknya
terdapat perbedaan.
7. -
Al Khuwaiby menyatakan bahwa itu adalah tanbih bagi Nabi, karena mungkin pada
saat turunnya wahyu Nabi dalam keadaan sibuk sehingga Alloh menyuruh Jibril
untuk mengatakan alif lam mim, agar Nabi mendengarnya lalu memperhatikan apa
yang akan disampaikan. - Pendapat tersebut dibantah oleh Sayid Rasyid Ridho.
Menurutnya tanbih itu ditujukan kepada musyrik Makkah dan Ahli Kitab Madinah
karena Nabi selalu dalam keadaan sadar dan siap untuk menerima wahyu. Pada saat
itu mereka menganjurkan satu sama lain untuk tidak mendengarkan Al Quran saat
Nabi membacakannya. Alloh pun berkehendak menarik perhatian mereka dengan mendatangkan
kepada mereka sesuatu yang tidak mereka ketahui, sehingga ketika mereka
mendengarnya meraka merasa heran dan mendengarkan. Dengan demikian mereka dapat
mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar itu. j) Orang – orang orientalis
(Noldeke, Schwally, Buhl dan Hirsfeld) berpendapat bahwa huruf – huruf itu
adalah inisial dari nama – nama sahabat Nabi, seperti sin dari Sa’id bin Abi
Waqash, ‘ain dari Usman bin Affan dan mim dari al Mughiroh. Pendapat ini
kemudian ditinggalkan oleh Noldeke. k) Orientalis yang lain (Bauer) berpendapat
bahwa huruf – huruf seperti tha sin mim adalah berarti Thurisina dan Musa
karena dalam surat yang dibuka dengan huruf tersebut menceritakan tentang Nabi
Musa yang menerima wahyu di bukit Thurisina. Begitulah pendapat – pendapat para
ulama terkait makna fawatihus suwar. Tentang mana makna yang paling benar wa
Allohu a’lam, hanya Allohlah yang mengetahui kebenarannya. IV. Kesimpulan Al
Quran adalah kitab yang diturunkan oleh Alloh kepada Nabi Muhammad yang
didalamnya terkandung keistimewaan, baik dari segi lafadz maupun kemukjizatan.
Termasuk keistimewaan tersebut adalah fawatihus suwar yang berarti permulaan –
permulaan surat (fawatih adalah jamak dari fatihah yang berarti pembuka dan
suwar adalah jamak dari surah yang berarti surat). Al Quran dibuka dengan
berbagai macam bentuk yang jumlahnya ada 10 dan Al Quran tidak dibuka dengan
selain yang 10 macam tersebut. Kesepuluh jenis pembuka itu adalah : - Ats
Tsana’ - Asy Syarth - AlHurufulMuqotho’ah - Al Amr - An Nida’ - Al Istifham
8. -
AlJumalul Khobariyyah - Ad Du’au - Al Qosam - At Ta’lil Ulama berbeda pendapat
tentang makna fawatihus suwar, namun secara garis besar dapat dirumuskan
kedalam 2 hal,yaitu: 1. Maknanya tersembunyi karena merupakan rahasia yang
hanya diketahui oleh Alloh. 2. Makna fawatihus suwar dapat diketahui oleh Alloh
dan dapat dipahami oleh manusia terutama orang – orang yang mendalami ilmu
pengetahuan-Nya. V. Penutup Demikianlah makalah ini kami buat, kami yakin masih
banyak kesalahan yang terdapat dalam penulisan makalah ini karena memang itu
adalah keterbatasan kami dan tidak ada manusia yang sempurna, hanya Dialah Yang
Maha Sempurna. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun selalu kami nantikan
demi perbaikan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfa’at, bagi
penulis khususnya serta bagi para pembaca pada umumnya. Amin ya Robb al
‘alamin.
No comments:
Post a Comment